1. Being more serious in my study
2. Get closer to my God
3. Travelling to foreign country
4. Part time job
5. Earn money
Senin, 11 Januari 2016
Minggu, 03 Januari 2016
Sepenggal Cerita Saat Jam Kosong
Riuh sekali. Jutaan suara yang bersahut
mulai membumbung tinggi menguasai pikiranku. Bergantian. Hilir mudik masuk dan
keluar. Memecah konsentrasiku yang sedari tadi aku pupuk satu per satu.
Sepertinya suara-suara yang kurang penting itu telah menginfeksi seluruh
program dalam otakku. Kemudian disusul mulai memanas. Sistem otakku terganggu.
Perlahan. Yah, perlahan sekali mulai aku rasakan suara itu berkurang. Mengecil.
Dan kemudian hanya sayup-sayup terdengar. Angin datang. Seakan membawa
kericuhan itu menjauh. Sekali lagi angin datang. Dan hilang semua suara itu.
Damai. Angin berhembus lagi. Membuaiku dalam alam pikiran yang semu.
Kupandangi tanaman depan kelasku. Ntah
sudah berapa kali dia bertahan melawan hujan dan panas beberapa hari ini.
Terlihat lemah dan layu. Menderita. Sehelai daunnya jatuh dan melayang. Seperti
jiwaku yang aku sendiri tak kuasa bagaimana mengendalikannya. Pikiran yang
bertahan, dan jiwa yang melayang. Mataku masih lekat memandang daun itu. Dia
jatuh di pelataran kelasku. Dan terinjak. Kemudian hancur, dan tersapu angin
yang kelihatan ragu-ragu menepisnya.
Mereka yang di luar alam pikirku tak pernah tau. Karena kurasa mereka memang
tak pernah ingin tau. Mungkin yang mereka tau, aku hanyalah seorang remaja
dengan goncangan jiwa. Dan yang mungkin juga mereka tau, aku tidak pernah ingin
berinteraksi dan berbicara seperti mereka. Mereka hanya tau sebagian kecil dari
aku. Mereka tidak tau. Aku yang berusaha bercerita dalam diam. Aku yang
berusaha mengenal dalam kejauhan. Dan satu yang sangat aku tau. Aku mencintai
alam pikirku. Dan tak akan pernah meninggalkan alam imajinasiku ini.
Mataku menyapu seluruh pemandangan yang bisa terjangkau dengan kedua lensa
minusku ini. Pintu kelas yang terbuka, kran air, rumput basah, lapangan basket,
genangan air, parkiran motor, dan banyak sekali. Satu-satu dari mereka tidak
pernah lewat dari pemikiranku. Kemudian mataku berbenturan dengan sebuah pintu
gerbang diujung sana. Hmm... pintu yang telah memisahkan duniaku dengan
dunianya.
Aku sendiri tak pernah tau sejak kapan aku hidup di duniaku ini. Dunia yang
kutahu sangat berbeda dengan dunia mereka. Kadangkala aku ingin hidup seperti
mereka. Dengan canda dan tawa yang lepas. Dengan segala kemampuan dan fasilitas
yang mereka miliki. Dengan semua yang wajar. Oke, mungkin tak banyak yang
mengenalku disini. Namaku Disca. Dan aku butuh kebebasan.
Konsentrasiku pecah lagi. Kembali riuh terdengar. Sampai aku tak tau kata apa saja yang terucap dari mereka. Suara bola yang beradu dengan lantai turut membuat dentuman-dentuman di kepalaku. Aku ingin ketenangan. Dan aku ingin berteriak: “AKU BUTUH KEBEBASAN”.
“Hei, kau kenapa?”, seorang temanku membuatku tersentak dan sadar dari pikiranku.
“Aku gak kenapa-kenapa kok...”, jawabku datar sambil berusaha tersenyum.
Riuh sekali. Jutaan suara yang bersahut mulai membumbung tinggi menguasai pikiranku. Bergantian. Hilir mudik masuk dan keluar. Memecah konsentrasiku yang sedari tadi aku pupuk satu per satu. Sepertinya suara-suara yang kurang penting itu telah menginfeksi seluruh program dalam otakku.
Konsentrasiku pecah lagi. Kembali riuh terdengar. Sampai aku tak tau kata apa saja yang terucap dari mereka. Suara bola yang beradu dengan lantai turut membuat dentuman-dentuman di kepalaku. Aku ingin ketenangan. Dan aku ingin berteriak: “AKU BUTUH KEBEBASAN”.
“Hei, kau kenapa?”, seorang temanku membuatku tersentak dan sadar dari pikiranku.
“Aku gak kenapa-kenapa kok...”, jawabku datar sambil berusaha tersenyum.
Riuh sekali. Jutaan suara yang bersahut mulai membumbung tinggi menguasai pikiranku. Bergantian. Hilir mudik masuk dan keluar. Memecah konsentrasiku yang sedari tadi aku pupuk satu per satu. Sepertinya suara-suara yang kurang penting itu telah menginfeksi seluruh program dalam otakku.
Perlahan. Yah, perlahan sekali mulai aku rasakan suara itu berkurang. Mengecil.
Dan kemudian hanya sayup-sayup terdengar. Angin datang. Seakan membawa
kericuhan itu menjauh. Sekali lagi angin datang. Dan hilang semua suara itu.
Damai. Angin berhembus lagi. Membuaiku dalam alam pikiran yang semu.
Kupandangi tanaman depan kelasku. Ntah sudah berapa kali dia bertahan melawan
hujan dan panas beberapa hari ini. Terlihat lemah dan layu. Menderita. Sehelai
daunnya jatuh dan melayang. Seperti jiwaku yang aku sendiri tak kuasa bagaimana
mengendalikannya. Pikiran yang bertahan, dan jiwa yang melayang. Mataku masih
lekat memandang daun itu. Dia jatuh di pelataran kelasku. Dan terinjak.
Kemudian hancur, dan tersapu angin yang kelihatan ragu-ragu menepisnya.
Mereka yang di luar alam pikirku tak pernah tau. Karena kurasa mereka memang
tak pernah ingin tau. Mungkin yang mereka tau, aku hanyalah seorang remaja
dengan goncangan jiwa. Dan yang mungkin juga mereka tau, aku tidak pernah ingin
berinteraksi dan berbicara seperti mereka. Mereka hanya tau sebagian kecil dari
aku. Mereka tidak tau. Aku yang berusaha bercerita dalam diam. Aku yang
berusaha mengenal dalam kejauhan. Dan satu yang sangat aku tau. Aku mencintai
alam pikirku. Dan tak akan pernah meninggalkan alam imajinasiku ini.
Mataku menyapu seluruh pemandangan yang bisa terjangkau dengan kedua lensa
minusku ini. Pintu kelas yang terbuka, kran air, rumput basah, lapangan basket,
genangan air, parkiran motor, dan banyak sekali. Satu-satu dari mereka tidak
pernah lewat dari pemikiranku. Kemudian mataku berbenturan dengan sebuah pintu
gerbang diujung sana. Hmm... pintu yang telah memisahkan duniaku dengan
dunianya.
Aku sendiri tak pernah tau sejak kapan aku hidup di duniaku ini. Dunia yang
kutahu sangat berbeda dengan dunia mereka. Kadangkala aku ingin hidup seperti
mereka. Dengan canda dan tawa yang lepas. Dengan segala kemampuan dan fasilitas
yang mereka miliki. Dengan semua yang wajar. Oke, mungkin tak banyak yang
mengenalku disini. Namaku Disca. Dan aku butuh kebebasan.
Konsentrasiku pecah lagi. Kembali riuh terdengar. Sampai aku tak tau kata apa saja yang terucap dari mereka. Suara bola yang beradu dengan lantai turut membuat dentuman-dentuman di kepalaku. Aku ingin ketenangan. Dan aku ingin berteriak: “AKU BUTUH KEBEBASAN”.
“Hei, kau kenapa?”, seorang temanku membuatku tersentak dan sadar dari pikiranku.
“Aku gak kenapa-kenapa kok...”, jawabku datar sambil berusaha tersenyum.
Aku punya keinginan. Tetapi aku diam.
Konsentrasiku pecah lagi. Kembali riuh terdengar. Sampai aku tak tau kata apa saja yang terucap dari mereka. Suara bola yang beradu dengan lantai turut membuat dentuman-dentuman di kepalaku. Aku ingin ketenangan. Dan aku ingin berteriak: “AKU BUTUH KEBEBASAN”.
“Hei, kau kenapa?”, seorang temanku membuatku tersentak dan sadar dari pikiranku.
“Aku gak kenapa-kenapa kok...”, jawabku datar sambil berusaha tersenyum.
Aku punya keinginan. Tetapi aku diam.
Jumat, 18 Desember 2015
TERRORISM
What is “terrorism”? Terrorism is any act designed to
cause terror. In a narrower sense, terrorism can be
understood to feature a political objective. The word terrorism is
politically loaded and emotionally charged. “Terrorism" comes from
the French word terrorisme. The definition of terrorism has proved controversial.
Various legal systems and government agencies use different definitions of terrorism in their national legislation.
Moreover, the international community has been
slow to formulate a universally agreed, legally binding definition of this
crime.
These difficulties
arise from the fact that the term "terrorism" is politically and
emotionally charged. The terms "terrorism" and "terrorist" (someone
who engages in terrorism) carry strong negative connotations. These
terms are often used as political labels, to condemn violence or the threat of
violence by certain actors as immoral, indiscriminate, unjustified or to
condemn an entire segment of a population. Those labeled
"terrorists" by their opponents rarely identify themselves as such,
and typically use other terms or terms specific to their situation, such as separatist, freedom fighter, liberator, revolutionary,vigilante, militant, paramilitary, guerrilla, rebel, patriot, or any similar-meaning
word in other languages and cultures. Individual
terrorists tend to be motivated more by a desire for social solidarity with
other members of their organization than by political platforms or strategic
objectives, which are often murky and undefined.
A
growing issue worldwide, terrorism, has caused
around 130,000 fatalities worldwide between 2006 and 2013. Terrorism
can be described as the wrongful use of violence in order to intimidate
civilians or politicians for ideological, religious, or political reasons with
no regard for public safety. Although the number of terrorist attacks from 2006 to
2013 has decreased, there have been approximately 90,000 total terrorist
attacks in this time period. Not only does terrorism have a massive social impact on
the world, but it also has a tremendous global economic impact. The costs of terrorist
attacks by insured property losses have cost the insurance industry billions over
the past decade. The bombing of the London financial district in 1993 cost the
insurance industry around 1 billion U.S. dollars. The relationship between domestic terrorism and democracy
is very complex. Terrorism is most common in nations with intermediate
political freedom, and is least common in the most democratic nations. However,
one study suggests that suicide terrorism may be an exception to this general
rule. Evidence regarding this particular method of terrorism reveals that every
modern suicide campaign has targeted a democracy–a state with a considerable
degree of political freedom. The study suggests that concessions awarded to
terrorists during the 1980s and 1990s for suicide attacks increased their
frequency.
There is
also something called Religius Terrorism and Intimate Terrorism (IT). Religious
terrorism is terrorism performed by groups or individuals, the motivation of
which is typically rooted in faith-based tenets.
Terrorist acts throughout history have been performed on religious grounds with
the goal to either spread or enforce a system of belief, viewpoint or opinion. The
validity and scope of religious terrorism is limited to the individual or a
group view or interpretation of that belief system's teachings and Intimate
terrorism (IT) may also involve emotional and psychological abuse.
Intimate terrorism is one element in a general pattern of control by one
partner over the other. Intimate terrorism is more likely to escalate over
time, not as likely to be mutual, and more likely to involve serious injury. IT
batterers include two types: "Generally-violent-antisocial" and "dysphoric-borderline". The first type includes people with general psychopathic and violent
tendencies. The second type are people who are emotionally dependent on the
relationship. Violence by a person against their intimate
partner is often done as a way for controlling their partner, even if this kind
of violence is not the most frequent. Support for
this typology has been found in subsequent evaluations.
Minggu, 15 November 2015
Pluralisme Sebagai Kekuatan Persatuan
Pluralisme yang merupakan pengertian dari keragaman memang
merupakan ciri khas dari bangsa Indonesia. Semakin banyak keragaman pada bangsa
ini, semakin banyak pula budaya dan keindahan yang Indonesia miliki. Tetapi
bukan berarti keragaman yang bangsa Indonesia miliki nilai negative dimata
masyarakat. Nilai-nilai kearifan pluralisme yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke, di mana semangat untuk menghormati orang lain merupakan bagian yang
tak terpisahkan dari masyarakat kita. Tanpa sikap saling menghormati rasanya
mustahil untuk mendirikan dan membangun cita-cita di atas Indonesia ini.
Memiliki banyak keragaman memang bukan hal yang mudah untuk
menyatukannya. Banyak sekali perbedaan yang harus diselaraskan agar terjadi
keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Indonesia adalah Negara dengan
keragaman yang cukup banyak dari Sabang sampai Merauke, dengan keragaman
bahasa, budaya, agama, serta suku yang terbagi-bagi di setiap provinsi. Walau
tidak mudah menyatukan perbedaan yang ada, namun bangsa Indonesia merupakan
bangsa yang selalu menjunjung rasa persatuan dan kesatuan serta menghargai
perbedaan yang ada. Itulah mengapa bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa yang
utuh, namun menyimpan banyak ragam indah didalamnya.
Dalam menyatukan pluralisme memang harus ada pengorbanan yang
dikeluarkan agar tidak terjadi selisih paham dan perdebatan. Saling menghargai
dan sikap tenggang rasa harus ditanamkan dari diri kita sendiri sehingga bangsa
Indonesia tetap satu tanpa ada perpecahan. Seluruh masyarakat juga harus
menjalin hubungan yang baik di setiap kondisi tanpa membeda-bedakan satu sama
lain. Dengan demikian, pemerintah tidak akan kewalahan dalam penanganan masalah
hanya karena perbedaan di Indonesia menjadi sebuah konflik sosial.
Pluralisme memang merupakan keindahan yang bangsa Indonesia miliki. Jadi, tidak ada alasan untuk menjadikan perbedaan yang ada di Indonesia menjadi sebuah permasalahan yang akan menimbulkan perpecahan. Pluralisme di Indonesia adalah keragaman yang tidak akan pernah hilang dari bangsa Indonesia, karena keragaman yang Indonesia miliki adalah kunci utama ketertarikan warga Negara asing melirik Negara Indonesia. Yang paling utama, pluralisme memang tercipta untuk menyatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Pluralisme memang merupakan keindahan yang bangsa Indonesia miliki. Jadi, tidak ada alasan untuk menjadikan perbedaan yang ada di Indonesia menjadi sebuah permasalahan yang akan menimbulkan perpecahan. Pluralisme di Indonesia adalah keragaman yang tidak akan pernah hilang dari bangsa Indonesia, karena keragaman yang Indonesia miliki adalah kunci utama ketertarikan warga Negara asing melirik Negara Indonesia. Yang paling utama, pluralisme memang tercipta untuk menyatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
What is Love?
Berbicara soal Cinta yang dalam bahasa Inggris disebut ‘Love’, pasti tidak asing lagi di telinga setiap manusia. Cinta itu indah. Cinta itu kebahagiaan. Cinta itu sempurna. Pengertian cinta bisa dibilang bersifat relatif karena sulit dibedakan batasan dan pengertiannya. Setiap orang pasti mempunyai pendapat yang berbeda mengenai Cinta.
Dalam Psikologi, Cinta dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Cinta Karena Nafsu
Yaitu cinta yang mengakibatkan hubungan antar dua orang tidak terkontrol lagi, emosi sangat menguasai akal sehat seseorang sehingga perilaku seolah terjadi secara spontan untuk menjawab rangsangan emosi yang berlebihan.
2. Cinta Pragmatis
yaitu cinta terjadi keseimbangan antara dua orang, ada rasa suka dan duka, serta adanya timbal balik.
3. Cinta Altruistik
biasanya terjadi pada seorang ibu kepada anaknya, cinta ini disertai kasih sayang yang tidak ada batasnya.
Cinta adalah suatu perasaan yang positif yang pasti dialami oleh semua makhluk hidup. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Arti atau makna cinta sendiri sangat luas karena objeknya sangat banyak, bisa berupa makhluk hidup bahkan benda mati dan emosi dari cinta kepada setiap objek pasti berbeda. Contoh-contoh cinta yaitu :
- Cinta kepada
Tuhan
- Cinta alam atau
lingkungan
- Cinta orang tua
dan keluarga
- Cinta kepada
lawan jenis atau pasangan hidup
- Cinta terhadap
pekerjaan yang dimiliki
- Cinta atas diri
sendiri atau narcissism
- Cinta terhadap
bangsa dan negara
- Cinta terhadap teman-teman
- Dan lain-lain
Ada yang disebut dengan Cinta Sejati, menurut saya cinta sejati hanya ada dalam dua kategori, yaitu cinta orang tua kepada anaknya dan cinta Tuhan kepada umatnya. Berbeda dengan istilah ‘jatuh cinta’, jatuh cinta biasanya cenderung terjadi pada seseorang dengan lawan jenisnya yaitu timbulnya rasa ketertarikan, nyaman, ingin tau tentang kehidupannya, dan rasa ingin memiliki. Ada juga istilah ‘cemburu’ dalam hal cinta, yaitu rasa takut kehilangan orang yang dicintai, tanda kurang percaya diri dan penghargaan diri.
Jumat, 09 Oktober 2015
REKOMENDASI WISATA KULINER
Wisata
Kuliner Menarik di JABODETABEK
Banyak
tempat wisata kuliner menarik yang terdapat di JABODETABEK. Apalagi belakangan
ini banyak restaurant, cafe dan tempat makan sekaligus hang-out yang baru dibangun yang semakin menarik perhatian anda
untuk mendatangi dan mencicipi menu hidangannya. Seperti salah satu wisata kuliner yang satu ini
yang terletak di pinggir kota Jakarta Selatan, lebih tepatnya Pondok Cabe.
Tempat
ini bernama Eat Republic. Tempat ini dibangun pada bulan April tahun 2015. Tempat
ini bisa dibilang bernuansa vintage. Tempatnya
yang teduh membuat pengunjung ingin berlama-lama disana. Seperti namanya, Eat
Republic seperti negara makanan yang menyediakan banyak menu makanan dari
makanan nusantara sampai makanan ala western
pun ada di tempat ini. Setidaknya terdapat 700 masakan, dimana 90 persennya
adalah masakan Nusantara. Eat Republic membantu melestarikan masakan Nusantara.
Meskipun tempat ini baru, namun Eat Republic terbukti reccommended karena di dalamnya terdapat pesan-pesan dan tanda
tangan artis-artis Indonesia dari pakar kuliner, Bondan Winarno. Di dalamnya
bukan hanya berisi tempat untuk kuliner saja tetapi juga ada area bermain untuk
anak-anak, live music, dan juga toko yang menjual berbagai barang-barang jadoel seperti radio, termos, rantang
dan lain-lain yang tren pada abad 19.
Bahkan mainan dan majalah anak-anak yang anda pasti pernah memainkannya di masa
kecil. Jadi, jika anda suka mengoleksi barang yang sudah termasuk antik, anda
bisa membelinya di sini. Fasilitas yang disediakan di tempat ini antara lain,
smoking area, free WiFi, dan untuk kalian yang membawa gadget jangan takut kehabisan baterai karena disini terdapat tempat
untuk men-charge gadget kalian.
Eat
Republic buka dari jam 10.00-22.00 untuk hari senin-jumat, 10.00-00.00 pada
hari sabtu, dan 07.00-00.00 pada hari minggu. Jika anda pertama kali datang ke
sini anda harus mengunjungi booth
‘CASHIER’ untuk membuat kartu anggota supaya bisa melakukan transaksi ketika
membeli makanan. Ya, di sini sistemnya menggunakan member card. Anda akan ditawarkan 2 jenis kartu, yang permanen atau
yang reguler. Dua-duanya sama-sama gratis untuk pembuatannya, dengan minimal
pengisian saldo 10ribu. Harga makanan di sini relatif standar tidak murah tidak
juga mahal, mulai dari 25ribu-45ribu karena disesuaikan juga dengan fasilitas
yang ada di dalamnya.
SEJARAH KERAJAAN KALINGGA
KERAJAAN KALINGGA
Sejarah Kerajaan Kalingga dimulai pada abad ke-6 dan merupakan sebuah
kerajaan dengan gaya India yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah. Belum
diketahui secara pasti dimana pusat kerajaan ini berada, tapi beberapa ahli memprediksikan
bahwa tempatnya ada di antara tempat yang sekarang menjadi Pekalongan dan
Jepara. Tidak banyak yang dapat diketahui dari kerajaan ini karena sumber
sejarah yang ada juga hampir nihil dan mayoritas catatan tentang sejarah kerajaan Kalingga didapat dari kisah-kisah Tiongkok, cerita
turun-temurun rakyat sekitar, dan Carita Parahyangan yang menceritakan tentang
Ratu Shima serta kaitan ratu tersebut dengan kerajaan Galuh. Ratu Shima juga
dikenal karena peraturannya yang kejam dimana siapapun yang tertangkap basah
mencuri akan dipotong tangannya.
Awal Mula Berdirinya Kerajaan Kalingga
Awal Berdirinya Kerajaan Kalingga
diperkirakan dimulai pada abad ke-6 hingga abad ke-7. Nama Kalingga sendiri
berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kaling, mengidekan bahwa ada
tautan antara India dan Indonesia. Bukan hanya lokasi pasti ibu kota dari
daerah ini saja yang tidak diketahui, tapi juga catatan sejarah dari periode
ini amatlah langka. Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi ibu kota
dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya
kabupaten Keling di pantai utara Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena
masa lalunya pada saat awal dibangunnya kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno. Beberapa orang juga mempunyai ide
bahwa Pekalongan merupakan nama yang telah berubah dari Pe-Kaling-an.
Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang
terkenal akan peraturan kejamnya terhadap pencurian, dimana hal tersebut
memaksa orang-orang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada kebenaran.
Menurut cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, pada suatu hari seorang
raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantung yang terisi
dengan emas pada persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran dan
kebenaran dari orang-orang Kalingga yang terkenal. Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantung emas yang bukan
milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anak dari Shima,
sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan
kakinya. Mendengar hal tersebut, Shima segera menjatuhkan hukuman mati kepada
anaknya sendiri. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Shima, beberapa orang
memohon agar Shima hanya memotong kakinya karena kakinya lah yang bersalah.
Dalam beberapa cerita, orang-orang tadi bahkan meminta Shima hanya memotong
jari dari anaknya.
Dalam salah satu kejadian pada sejarah
kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik dimana kerajaan ini terislamkan.
Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa utusan menuju Tiongkok
sambil mengemban misi untuk memperkenalkan Islam kepada daerah yang asing
tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang utusannya
menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga. Kedatangan utusan yang terjadi pada
masa setelah Ratu Shima turun dan digantikan oleh Jay Shima ini menyebabkan
sang raja memeluk agama Islam dan juga diikuti jejaknya oleh beberapa bangsawan Jawa yang mulai meninggalkan agama asli
mereka dan menganut Islam.
Seperti kebanyakan kerajaan lainnya di
Indonesia, kerajaan Kalingga juga mengalami ketertinggalan saat kerajaan
tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang
berhasil ditemukan adalah 2 candi bernama candi Angin dan candi Bubrah. Candi
Angin dan Candi Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di Keling, tepatnya
di desa Tempur. Candi Angin mendapatkan namanya karena memiliki letak yang
tinggi dan berumur lebih tua dari Candi Borobudur . Candi Bubrah, di lain sisi, merupakan
sebuah candi yang baru setengah jadi, tapi umurnya sama dengan candi Angin.
Kerjaan Kalingga Dalam Catatan Tionghoa
Kerajaan Kalingga dikenal juga dengan nama
kerajaan Ho-ling oleh orang-orang Tionghoa. Menurut catatan bangsa Tionghoa,
Ho-ling dipercaya muncul ketika terjadi ekspansi besar oleh dinasti Syailendra.
Kisah tentang kerajaan Ho-ling mulai ditulis dalam kronik dinasti Tang yang ada
pada tahun 618 hingga 906. Menurut kronik tadi, orang-orang Ho-ling dipercaya
gemar makan hanya menggunakan tangan dan tanpa sendok maupun sumpit. Tertulis
juga di kroik tadi bahwa para masyarakat Ho-ling suka mengonsumsi tuwak, sebuah
sari buah yang difermentasikan. Ibu kota dari Ho-ling dikelilingi oleh pagar
kayu, dan sang raja tinggal di sebuah istana berlantai 2 dan daun palma sebagai
atapnya. Sang raja duduk pada sebuah kursi yang terbuat dari gading dan
menggunakan keset yang terbuat dari bambu. Ho-ling juga diceratakan memiliki
sebuah bukit yang ia namakan Lang-pi-ya. Beberapa sumber lain dari catatan
Tionghoa menuliskan sebuah analisa tentang lokasi dari kerajaan Ho-ling ini. Ia
menuliskan bahwa Ho-ling berlokasi di Jawa Tengah dan bahwa La-pi-ya menghadap
ke arah samudra membuat lokasi Ho-ling jadi agak lebih mudah diketahui.
Raja atau ratu yang saat itu memegang kepala pemerintahan
Ho-ling tinggal di kota bernama She-p’o, tapi Ki-yen kemudian memindahkan
lokasi pemerintahan menuju P’o-lu-Chia-ssu. Menurut catatan, diperkirakan bahwa
ada kebingungan yang meliputi masa-masa terakhir kerajaan Ho-ling atau Kalingga
ini. Ada dua teori besar tentang hal ini, dimana teori yang pertama adalah
ketika Sanjaya yang masih merupakan cucu dari Shima mengambil alih
pemerintahan. Ia mengubah kerajaan Kalingga yang bercorak Buddha menjadi
kerajaan Mataram yang memiliki corak hindu. Cerita lain tentang sejarah kerajaan Kalingga ialah tentang bagimana Patapan yang
merupakan salah satu pangeran dari dinasti Sanjaya merebut kursi penguasa dan
menjadi raja pada tahun 832, dimana Mataram terus menjadi pengemulasi
aturan-aturan Sailendra.
Langganan:
Postingan (Atom)
